Di era globalisasi saat ini, bahasa Inggris adalah bahasa asing minimal yang wajib dikuasai peserta didik mulai dari tingkat Sekolah Dasar. Bahkan sebagian besar SMP/MTs negeri dan swasta di Indonesia, terutama di Jakarta telah menggunakan bahasa Inggris tidak hanya dalam pembelajaran bahasa Inggris itu sendiri tetapi juga dalam pembelajaran IPA dan pembelajaran mata pelajaran lainnya.

Tapi sayangnya sikap beberapa peserta didik terhadap pelajaran bahasa Inggris terkadang negatif. Masih banyak peserta didik yang menganggap pelajaran bahasa Inggris sebagai pelajaran yang “menakutkan” sehingga mereka malas mempelajarinya. Mereka juga merasa bahwa bahasa Inggris merupakan salah satu mata pelajaran yang dipaksakan pada mereka karena harus memenuhi standar kelulusan. Oleh karena itu, hasil ujian praktek akhir dan ujian nasional tidak selalu memuaskan karena motif beberapa peserta didik untuk belajar bahasa Inggris itu hanya untuk lulus dan tidak untuk benar-benar untuk menguasai bahasa tersebut.

Dengan didukung oleh kutipan pendapat  para ahli seperti Cameron (2001), Pinter (2006), Brown (2001), Musthafa (2008), dan lain-lain, artikel ini mencoba memberikan solusi alternatif untuk mengatasi kesulitan-kesulitan para peserta didik dalam pembelajaran bahasa Inggris yang ditemui dan diamati penulis selama kurang lebih 23 tahun mengajar ditingkat SMP dan SMA. Semoga beberapa kemungkinan penyebab sikap negatif peserta didik terhadap pelajaran bahasa Inggris bisa diminimalisir atau dihilangkan dan berubah menjadi suatu prestasi cemerlang.

Kesulitan pertama yang ditemukan dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah peserta didik memiliki rentang perhatian yang relatif singkat dalam pembelajaran bahasa Inggris terutama saat mereka harus berurusan dengan materi yang mereka anggap tidak berguna, sulit, tidak memiliki manfaat langsung atau tidak berkaitan langsung dengan mereka. Oleh sebab itu dalam pembelajaran bahasa Inggris, guru sebaiknya menggunakan materi pembelajaran yang bermanfaat dan berkaitan langsung dengan para peserta didik dan lingkungan sekitarnya. Cerita, situasi, karakter, tujuan dan percakapan tentang kehidupan nyata yang dikenal dan berarti bagi peserta didik dalam pembelajaran bahasa bahasa Inggris akan membangun satu konteks bahasa yang dapat diterima peserta didik untuk meningkatkan perhatian dan konsentrasi mereka.

Para guru juga harus menggunakan pendekatan bahasa secara keseluruhan atau terintegrasi (mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis). Jika kemampuan bahasa diajarkan secara terpisah, peserta didik tidak akan melihat hubungannya secara keseluruhan. Dalam mengajarkan bahasa Inggris para guru juga harus mengatur waktu dan sumber belajar  dengan baik dan memberikan para peserta didik kegiatan dan tugas yang berbeda dan melibatkan peserta didik. Selain itu, guru juga harus menyediakan kegiatan di luar kelas yang membuat peserta didik bergerak aktif, tidak hanya duduk di meja dalam mengerjakan latihan dan tugas, seperti memberikan  peserta didik kegiatan bermain peran, permainan yang bermakna, atau melakukan kegiatan fisik secara total (Total Physical Response/TPR). Kegiatan-kegiatan tersebut juga harus direncanakan agar para guru dapat mendapatkan manfaat besar dari kegiatan tersebut.

Kesulitan kedua adalah srbagian peserta didik sulit untuk memahami hal-hal abstrak karena mereka perlu melibatkan kelima panca indra untuk distimulasi. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, kegiatan pembelajaran harus menggunakan alat bantu audio visual seperti video, gambar, realia, kaset, musik dan semua elemen yang penting dalam pengajaran bahasa Inggris untuk menginternalisasi konsep-konsep. Bahasa nonverbal juga memiliki peranan yang sangat penting dalam pembelajaran bahasa Inggris. Oleh karena itu, guru juga harus menggunakan aspek non-verbal dalam proses pembelajaran seperti pantomim, gerak tubuh, ekspresi wajah, visualisasi, tindakan, dan intonasi.  Para guru juga perlu menggunakan animasi, dan memiliki rasa humor dalam penyajian materi untuk meningkatkan minat, antusias dan perhatian peserta didik.

Kesulitan ketiga yang dapat ditemukan dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah kebanyakan peserta didik sangat sensitif, dan cemas terhadap kemampuan mereka, terutama saat mereka harus berbicara di depan teman-teman mereka. Untuk mengatasi kesulitan ini guru harus berempati dengan kebutuhan peserta didik karena peserta didik akan belajar lebih baik saat mereka merasa nyaman dan aman. Topik yang berkaitan langsung dengan mereka dan lingkungan mereka dapat memberikan jembatan penting yang membawa kenyamanan dan ketentraman. Guru juga harus sabar dan mendukung siwa dalam membangun harga diri mereka. Selain itu para guru juga harus melibatkan peserta didik sebanyak mungkin dalam partisipasi tanya jawab dan memberi mereka banyak kesempatan untuk tampil dalam kelompoknya atau di depan kelas.

Kesulitan keempat yang ditemui penulis adalah peserta didik sulit untuk mengingat aturan tata bahasa dan kosakata bahasa Inggris. Penyebab kesulitan tersebut adalah para peserta didik khususnya di kelas VII SMP/MTs masih dalam tahap intelektual yang disebut Piaget “situasi konkret”. Oleh karena itu, guru tidak harus menggunakan istilah seperti “progresif, “demonstratif” atau “conditional sentence”, dan sebagainya dalam menjelaskan tata bahasa Inggris. Guru dapat menjelaskan beberapa konsep tata bahasa, dengan menggunakan teks (genre), gambar, dan contoh-contoh dan mengulangi konsep-konsep yang sulit atau pola tertentu lebih sering. Kosakata atau materi yang dikenal peserta didik juga memainkan peranan penting dalam pembelajaran bahasa Inggris. Guru perlu memberikan peserta didik berbagai peluang untuk mendengar dan menggunakan tata bahasa dan kosakata Inggris dengan pengucapan dan intonasi yang baik. Permainan peran juga menjadi bagian aktif dari pembelajaran bahasa Inggris. Tugas harus bermakna dan membantu peserta didik memahami pengalaman baru dengan menghubungkan pengalaman tersebut dengan pengetahuan yang telah mereka ketahui sebelumnya. Jika kosakata bahasa Inggris sering didengar dan aktif dipakai dalam komunikasi nyata, lebih mungkin bahwa peserta didik akan belajar dan menggunakannya karena belajar bahasa kedua/asing hampir sama seperti peserta didik mendapatkan bahasa ibu mereka.

Kesulitan lainnya dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah peserta didik mengalami kesulitan untuk membaca dan menulis dalam bahasa Inggris karena dalam tahap awal pengembangan baca tulis,  pembentukan konsep dari keterampilan membaca dan menulis adalah proses yang dinamis. Oleh karena itu, guru perlu menyediakan kegiatan dan materi  yang mendorong peserta didik untuk membaca dan menulis bahasa Inggris sejak awal untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Kegiatan dalam mempraktekkan keterampilan membaca dan menulis juga harus menyenangkan agar hubungan dan perasaan positif terhadap pengalaman pembelajaran dapat berkembang. Contohnya membacakan cerita, menyanyikan lagu-lagu, melakukan percakapan dengan situasi yang dikenal peserta didik, dan terlibat dalam permainan peran dan permainan yang bermakna.

Dengan mengetahui kemungkinan kesulitan para peserta didik dalam pembelajaran bahasa Inggris diharapkan bahwa para peserta didik dan para guru dapat lebih efektif dan kreatif lagi dalam mengembangkan pembelajaran bahasa Inggris dan dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris serta prestasi peserta didik di pelajaran bahasa Inggris maupun di mata pelajaran lainnya. (Melda Y. Anwar, M.Pd.)