INTROSPEKSI DIRI DI AKHIR TAHUN HIJRIYAH 1442 H

Oleh: Ahmad Sahal, S. Ag.

Hari ini kita sudah berada di penghujung tahun 1442 H. Tahunnya umat Islam. Mari kita renungi perjalanan selama satu tahun ini. Apakan kebaikan yang banyak kita tanam untuk kehidupan di hari akhir, atau keburukan dan dosa yang kita tumpuk selama satu tahun ini.

Perlu kita sadari, bahwa status kita adalah makhluk. Setiap makhluk pasti memiliki kekurangan. Kita tidak bisa melihat kekurangan atau kesalahan pribadi kita kalau kita tidak mau mengoreksi diri.

Allah Swt. Memerintahkan kita untuk mengoreksi diri. Dalam Quran Surat Al-Hasyr Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

Mulai dari hal yang paling mendasar, yang menjadi sumber dari segala perbuatan, yaitu hati. Apakah hati kita sudah bersih dari prasangka-prasangka buruk? Apakah hati kita selalu bertekad untuk berbuat baik? Apakah hati kita sudah selalu mengingat Allah?

Kemudian merambat pada anggota-anggota tubuh yang kita gunakan untuk menjalankan aktivitas. Sudahkah aktivitas yang kita lakukan itu sesuai syariat? Sudahkah aktivitas yang kita lakukan bermanfaat bagi orang banyak?

Sahabat Umar bin Khattab pernah berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا ، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا

“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dikoreksi! Timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang (di hari kiamat)!”

 

Mengapa muhasabah atau mengintrospeksi diri itu sangat perlu?

Karena hidup kita di dunia ini terbatasi oleh waktu. Ketika waktu tersebut kita gunakan untuk berbuat baik, maka kita beruntung. Tetapi ketika waktu tersebut kita gunakan untuk berbuat buruk, maka kita merugi.

 

 

Syaikh Muhammad Jalaluddin mengatakan dalam ringkasan Kitab Ihya’nya:

مَا لِي بِضَاعَةً إِلَّا الْعُمْرَ, وَمَهْمَا فَنَى فَقَدْ فَنَى رَأْسُ الْمَالِ

“Kita tidak mempunyai modal kecuali umur. Ketika umur kita habis, maka habislah modal kita.”

Oleh karena itu, dalam momen akhir tahun hijriyah ini, marilah kita bersama-sama merenungi amal-amal perbuatan kita, supaya kita bisa menyadari kekurangan-kekurangan kita, sehingga kita bisa memperbaikinya untuk masa depan kita yang lebih baik.